Senin, 22 Juni 2015

Perjalanan ke Pantai Ombak Tujuh, Ujung Genteng

Ini adalah postingan selingan, jangan kaget kalo setelah ini ternyata blog Dunia Elektron ini jadi banyak OOT. Dalam ilmu elektronika, ada satu istilah yang dikenal sebagai Signal to Noise Ratio (SNR), anggap saja ini Noise nya :)

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman perjalanan saya tahun 2014 silam ke satu lokasi wisata yang bernama Pantai Ombak Tujuh. Cerita bermula ketika kami sekeluarga mudik ke rumah mertua saya di Sukabumi. Ini merupakan momen momen yang selalu saya nantikan sepanjang tahun, karena Mudik Lebaran selain mempertemukan kami dengan keluarga besar di kampung halaman, juga memunculkan jiwa petualangan saya yang terpendam akibat banyaknya aktivitas saya menyangkut urusan kerjaan. Seperti cerita mudik tahun kemarin ini, saya ingin mencoba petualangan yang lebih dari sebelumnya yang cuma jalan-jalan diseputar Ujung Genteng, tanpa merambah kawasan yang lebih dalamnya lagi  kali ini, saya mencoba menjelajah ke kawasan Ombak Tujuh.






Pantai ombak tujuh berada di sebelah barat di jajaran pantai Ujung Genteng.  Pantai yang terletak di daerah paling barat deretan pantai selatan di Jawa Barat, daerah kabupaten Sukabumi.







Dari Ujung Genteng ke lokasi pantai Ombak Tujuh berjarak sekitar 15 Km. Jalan yang ditempuh melewati Pantai Cibuaya, ke Pangumbahan, ke muara Cipanarikan, ke Citirem, dan kemudian sampai di Ombak Tujuh.

Dari Ujung Genteng hingga ke tempat Konservasi Penyu Hijau pantai Pangumbahan, yang melewati Cibuaya, saat itu sudah banyak berdiri penginapan, villa, dan ada juga satu hotel dan resort. Jalan yang dilewati pun sudah dapat dilalui dengan kendaraan roda empat. Dari pusat konservasi penyu hijau pantai pangumbahan, perjalanan hanya bisa dilanjutkan dengan kendaraan roda dua.

Saat itu, saya dengan berbekal tekat dan nekat :) pergi sendiri dengan bebek roda dua yang bisa dikatakan gak cocok untuk melewati medan yang akan dilalui. Untungnya saat itu sedang musim kemarau, jadi si bebek masih bisa melewati jalanan setapak tanah. Sudah dapat dipastikan hanya motor Trail yang bisa melewati jalanan itu jika di musih hujan.

Dua puluh menitan pertama saya melewati jalanan perkebuanan kelapa. Sempat nyasar karena jalan setapaknya ada beberapa percabangan atau pertigaan yang disana tidak ada sama sekali rambu lalui lintas dan petunjuk jalan. Ya iya lah, ini kan bukan di kota :) Seorang bapak penyadap, eits.. bukan KPK, ini mah Penyadap Nira, bahan Gula Kelapa itu loh, memberi petunjuk jalan, sehingga saya bisa kembali ke jalan yang benar.

Sampai lah saya di sisi satu sungai tanpa jembatan yang pertama. Sungai ini bermuara di ujung barat pantai pangumbahan, yang bernama muara Cipanarikan, jadi sungai ini bernama sungai Cipanarikan. Saya sempet bengong dan turun dari 'si bebek'. Lirik kiri-kanan, rupanya ada seorang anak SMU yang lagi nyuci motor macan nya. Iya anak SMU, soalnya dia masih pake celana SMU waktu nyuci itu, tapi SMU mana saya gak tau.*penting emang dibahas?

Perlintasan sungai cipanarikan ini hanya bisa dilewati saat air sungai surut di musih kemarau. di musim hujan, hampir pasti tidak bisa dilewati.





Setelah dapat informasi dari si anak itu, dan setelah kembali membulatkan tekat yang sempet jadi gepeng, saya pun menggeber si bebek melewati sungai ini. di dua pertiga jalan melintasi sungai itu, ban depan si bebek masuk ke sela bebatuan sungai yang lumayan dalam, dan membuat dua pertiga ban depan si bebek terendam air. Alhasil si bebek pun gak bisa gerak. Mau minta tolong si anak SMU, gak enak, dan emang anaknya gak asik, rada cuek gitu.. *lagian, siapalah saya?

Pertolongan datang dari sekelompok anak bermotor, yang tiba-tiba menyusul, yang ternyata mereka juga akan menuju pantai yang sama, Ombak Tujuh. Setelah gotong royong bersama melintasi sungai pertama ini, kami berhenti sebentar untuk sekedar kenalan. Rupanya mereka anak-anak Jakarta yang baru lulus SMU dan sedang dalam acara perpisahan. Mereka bertujuh dengan mengendarai lima motor, yang dua orang, anak perempuan yang ikut membonceng.








Perjalanan saya lanjutkan tanpa ragu lagi, karena sudah ada teman dan bisa jalan beriringan. Meskipun kita sama-sama belum tau dan belum punya pengalaman ke Pantai itu, kita (saya aja kali) tidak merasa kuatir ada apa-apa diperjalanan selanjutnya.

Kita beriringan melewati jalan setapak di hutan, yang kiri kanan jalannya terdapat alang-alang bahkan ranting-ranting kecil pepohon khas hutan lindung. Hutan ini merupakan bagian selatan dari Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) Ciletuh.







Setelah hampir dua jam perjalanan, melewati hutan itu dan dua kali melintasi sungai tanpa jembatan berikutnya, akhirnya sampai lah kita di tujuan. Berikut hasil-hasil jempretan kamera yang jauh dari profesional.















Setelah puas menikmati pesona ombak tujuh, dan hari sudah beranjak sore, saya pun pamit ke anak-anak itu untuk pergi pulang duluan. Sayangnya saya lupa ngasih tau ke mereka untuk sekedar singgah dulu di rumah mertua saya di daerah Surade, ketika mereka akan pulang kembali ke Jakarta. Saya ingin memberikan sekedar ungkapan terima kasih saya atas perjalanan bareng ke Ombak tujuh.

Itulah  pengalaman saya waktu menjelajahi salah satu surga terpencil di Pantai Selatan. Pengalaman yang tidak pernah terlupakan mengingat jalan yang harus kami lewati, perjuangan mencapai tujuan bukanlah hal yang mudah. Tapi temen-teman yang mau ke sana jangan berkecil hati, asal mengikuti beberapa tips berikut, InsyaAlloh bisa sampai ke tujuan,

Pertama, pastikan untuk membawa guide atau minimal bertanya tanya dulu kepada penduduk sekitar mengenai rute yang akan di tempuh, baik sebelum berangkat, atau pun pada saat diperjalanan karena banyaknya jalan setapak yang harus dilalui. Kemudian, Diusahakan jangan pergi sendirian, minimal ada orang yang akan membantu kita mendorong motor saat akan melalui daerah-daerah curam yang harus dilalui. Ketiga, pastikan kendaraan kita berada dalam kondisi yang baik, karena kita tentunya tak mau mogok di jalan kan. Berikutnya, bawalah perbekalan secukupnya terutama air untuk minum, dan pastikan temen-temen sudah makan dulu dari tempat keberangkatan, karena rute yang akan ditempuh jauh, sedangkan warung warung kecil sulit ditemui. Dan yang terpenting dari smemuanya, selalu berdoa serta siapkan mental yang kuat heheheh...
_______________________

Mudik memang sealu membawa cerita yang menarik... Apalagi setiap tahunnya saya selalu mudik, baik itu ke kampung halaman saya di Karawang, ataupun ke rumah mertua saya di Sukabumi. Mudik pastilah butuh kendaraan yang selain stylish juga cukup tangguh di perjalanan dan irit bahan bakar. Lirikan pertama saya adalah mobil LCGC keluaran dari toyota Agya, yang sekarang di Bandung makin banyak aja penampakannnya seliwiran di jalanan. Lama-lama sayapun penasaran dan nyari nyari sedikit info tentang toyota Agya ini, yang mana ternyata, selain irit bahan bakar, Agya juga memiliki kelebihan yang tak kalah menarik, misalnya Agya sudah dilengkapi dengan Dual SRS air bag, yang pastinya memberikanan keamanan bagi pengendaranya. Kemudian, kabinnya juga luas, begitu juga dengan bagasinya, padahal kalo dilihat-lihat dari luar, penampakannya cukup kecil ya, tapi ternyata dalamnya lumayan luas lho... cukuplah untuk keluarga kecil bahagia seperti kami hehe... Selain itu, AGya juga sudah dilengkapi dengan USB charger dan AUX connect yang memudahkan kita untuk mendengarkan music atau murrotal saat berkendara. Gimana? oke kan? 





Baiklan... demikian cerita selingan saya. Besok besok deh kalo jadwal kerjaan saya undah mulai kendor, InsyaAlloh saya akan mengapdet lagi informasi seputar dunia elektronnya.


Salam,

8 komentar:

  1. Kang boleh atuh jadi pemandunyaa saya sama kawan mau kesana euyy penasaraaann hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya nya juga di bandung tinggalnya.. Kalo mau ada guide ke sana mah gampang, tukang ojek yang biasa pada nongkrong di ujung genteng, juga biasa kok jadi guide wisata.. Ajak salah satu dari mereka aja..

      Hapus
  2. ga tau tempatnya ey dimanaa sii
    tahun baru pengen ke situ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, bawa perlengkapan kemping lebih asik tuh pastinya.. Tempatnya, lihat gambar peta aja.. Selebihnya pake GPS, alias Gunakan Penduduk Sekitar hehe..

      Hapus
  3. rencana mau ksni, masih rencana, kalo jadi mudah2an lancar, aamiin

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. perjalanan dari stasiun sukabumi ke ujung genteng brp lama ya?

    BalasHapus
  6. Yang berniat ke Daerah ini silahkan hubungi saya....

    BalasHapus